Main Content

David Rajaguguk, staf Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), suatu LSM solidaritas di Parapat, Sumatera Utara, Indonesia

“PT Toba Pulp Lestari (TPL) dengan konsep paradigma barunya, itu realitasnya tidak ada di lapangan. Jadi konsep paradigma baru dengan melibatkan masyarakat atau juga menghargai hak-hak masyarakat, itu hanya ada di atas kertas. Kenapa saya katakan begitu? Karena memang semakin tahun konflik itu semakin bertambah, khusunya yang saat ini didampingi KSPPM itu ada 19 kasus yang berhubungan dengan hak-hak masyarakat adat yang ada di tanah Batak.”

Answer

Perusahaan pulp raksasa PT Toba Pulp Lestari (TPL) membangun pabrik pulp di dekat pemukiman masyarakat di Danau Toba pada awal tahun 1980an untuk mengolah kayu menjadi bubur kertas atau pulp untuk kertas dan kain. Akan tetapi para pemilik tanah adat tidak pernah memberikan persetujuan atas dasar informasi di awal dan tanpa paksaan, ataupun mendapatkan kompensasi atas lahan di mana PT TPL membangun pabriknya. Limpasan air akibat polusi dari pabrik mengalir ke sumber air setempat dan telah mengakibatkan penyakit di masyarakat sekitar selama 30 tahun terakhir. Polusi udara dan bau dari pabrik mempengaruhi ribuan warga yang tinggal di sekitar pabrik.