Press Releases

November 06, 2016

Laporan Terbaru: Pembukaan Hutan terus Dilakukan oleh Industri Kelapa Sawit Meskipun Moratorium Berlaku, Mengancam Kelangsungan Hidup Spesies dan Keselamatan Hidup Jutaan Manusia

Ekosistem Leuser dalam keadaan kritis setelah hutan hujan dan lahan gambut terus dirusak untuk perkebunan kelapa sawit, mengancam habitat gajah Sumatra dan orangutan

KONTAK: U.S. — Emma Rae Lierley, Emma@ran.org, +1 425.281.1989

 Indonesia — Leoni Rahmawati Leoni@ran.org, +62 821.2438.2000

San Francisco/Jakarta — Laporan terbaru Rainforest Action Network (RAN) dirilis hari ini bertepatan dengan pertemuan tahunan ke-14 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Bangkok, mengungkap kerusakan yang terus berlanjut di salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di bumi. Laporan RAN — berjudul Melindungi Ekosistem Leuser: Sebuah Tanggung Jawab Bersama — mengumpulkan bukti-bukti tentang adanya kegiatan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit yang mensuplai ke pabrik pengolahan setempat. Kegiatan ini terus berlangsung meskipun moratorium mengenai pembukaan hutan untuk ekspansi kelapa sawit diberlakukan.

Laporan ini menyoroti hubungan yang terus berlanjut antara perusahaan kelapa sawit besar seperti Wilmar International, Musim Mas Group dan Golden Agri-Resources — dikenal sebagai ‘Tiga Pembeli Besar’ — terkait dengan sumber kelapa sawit tidak bertanggung jawab dari wilayah tersebut. Dalam laporan dijelaskan bagaimana ketiga pembeli besar itu menjadi sumber beberapa merek dan siapa penyokong dana mereka, berikut langkah-langkah yang harus diambil oleh pemerintah nasional dan daerah untuk melindungi spesies langka dan mata pencaharian masyarakat dari pertumbuhan industri yang melampaui batas.

“Sangat sulit untuk mengungkapkan secara tepat pentingnya Ekosistem Leuser, bukan hanya untuk jutaan rakyat Aceh yang menggantungkan mata pencaharian dan air bersih, tapi juga untuk dunia, karena fungsinya sebagai penyeimbang iklim dan penyedia tempat tinggal bagi populasi liar terakhir gajah, orangutan, harimau dan badak Sumatra yang masih hidup bersama di alam bebas.” ujar Chelsea Matthews, Forest Campaigner untuk Rainforest Action Network (RAN). “Skala kerusakan yang terus berlangsung di wilayah ini memperjelas bahwa tindakan kolektif bersama sangat dibutuhkan saat ini, atau kita akan beresiko kehilangan Ekosistem Leuser selamanya. Moratorium memang membawa dampak postitif, namun dengan hutan yang terus menyusut, kita harus bertindak lebih agresif untuk menghentikan kerusakan.”

Diterbitkan dua tahun sesudah RAN pertama kali mengungkap ancaman terhadap Ekosistem Leuser di bulan November 2014, pada laporan terbaru ini masih ditemukan hutan hujan tropis yang terus menyusut, lahan gambut yang dikeringkan, dan konflik yang masih terus terjadi antara masyarakat dengan perusahaan, dimana perlindungan hukum pada Ekosistem Leuser masih terus terancam meskipun sudah ada moratorium pembukaan lahan baru untuk kelapa sawit. Moratorium ditetapkan menjadi undang-undang pada April 2016, kendati banyak perusahaan yang menghormati instruksi pemerintah untuk menghentikan pembukaan hutan, namun pelaku kejahatan — yang menjadi “Penyebab Kelapa Sawit Bermasalah” — disebutkan dalam laporan sebagai penyebab terus terjadinya perusakan terhadap hutan hujan dan lahan gambut di dataran rendah yang paling berharga.

Laporan tersebut menunjukkan terjadinya pembukaan hutan terbaru yang terdeteksi melalui analisis satelit pada September 2016, menghabiskan beberapa habitat terakhir tempat gajah Sumatra dan orangutan — dengan tingkat penebangan hutan meningkat pesat. Di bulan September terlihat peningkatan kerusakan hutan tiga kali lipat dari bulan Agustus, sedangkan kerusakan di bulan Agustus sudah lebih besar dibandingkan Juli.

“Moratorium ekspansi kelapa sawit oleh pemerintah Indonesia dan upaya untuk menghentikan pelaku kejahatan perusak lahan gambut di Ekosistem Leuser merupakan sebuah harapan, dan masyarakat internasional harus mengambil langkah dengan terus mendukung upaya perlindungan hutan dan lahan gambut di Indonesia, termasuk Leuser.

“Menghentikan perusakan hutan dan lahan gambut — dan kebakaran hutan yang sengaja dilakukan untuk perluasan industri perkebunan kelapa sawit — akan mengurangi jejak karbon Indonesia, mengurangi tingkat krisis tahunan akibat kabut asap dan mengamankan kehidupan dan mata pencaharian masyarakat yang tak terhitung jumlahnya. Terlalu banyak yang dipertaruhkan. KIta semua harus menjalankan bagian kita untuk menghentikan perluasan kelapa sawit bermasalah dan melindungi Ekosistem Leuser,” Matthews menyimpulkan.

Laporan terbaru tersebut juga membahas adanya peluang rencana pembangunan Indonesia baru untuk provinsi Aceh –– yang meliputi perlindungan pada Ekosistem Leuser, mengamankan perdamaian dan mata pencaharian, dan menciptakan peluang ekonomi baru untuk masyarakat setempat. Laporan ini dirilis sehari sebelum pembacaan keputusan gugatan perdata warga negara Indonesia yang menolak Rencana Tata Ruang Aceh, harus ditegakkan demi mempertahankan perlindungan hukum bagi Ekosistem Leuser saat ini.

Rekomendasi penting yang diuraikan dalam laporan RAN meliputi:

  • ‘Tiga Pembeli Besar’ yang beresiko melakukan pembelian kelapa sawit bermasalah dari Ekosistem Leuser harus memberikan insentif nyata bagi suplier mereka yang dapat menegakkan moratorium hutan dan lahan gambut.

  • Pemerintah Indonesia harus menolak Rencana Tata Ruang Aceh yang cacat hukum dan menjamin perlindungan hukum atas Ekosistem Leuser; memastikan penegakan moratorium pembukaan hutan dan lahan gambut; mencegah kebakaran dan menuntut perusahaan yang melanggar hukum.

  • 20 merk makanan ringan yang belum mengambil tindakan — PepsiCo, Kraft Heinz, Nissin Foods, Toyo Suisan dan Tyson Foods — karena terus mengambil bahan baku dari daerah bermasalah seperti Ekosistem Leuser juga harus lebih bertanggung jawab pada rantai pasok mereka.

  • Konsumen di seluruh dunia memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa Ekosistem Leuser tidak dihancurkan untuk kelapa sawit murah bermasalah dengan menuntut 20 produsen makanan ringan agar bertanggung jawab atas dampak penggunaan kelapa sawit mereka.

Unduh ringkasan laporan untuk media disini.

Unduh laporan lengkap disini.

 

###

Be the first to comment

Please check your e-mail for a link to activate your account.